Kamis, 20 November 2014

kisah nyata, ojek gunung, atau manol, batu lapis

 
Banyak suka dan duka sudah ia rasakan,dan disaat penulis temui minggu 24 juli 2010 saat itu, ia menuturkan bahwasan nya manol harus mempunyai keahlian dan keterampilan tersendiri terutama pada saat menghadapi musim hujan. selain tanah yang licin ,medan yang berat sangat membutuhkan kewapadaan extra, apalagi banyak dikawasan Batu lapis banyak terdapat jurang terjal yang setiap saat selalu mengancam keselamatan para pemanol.
 Apalagi pada panen musim kopi tahun ini, yang hampir tiap hari kawasan batu lapis selalu di guyur hujan. dia juga menuturkan bahwa para pemanol di sini hanya bekerja musiman, yakni pada panen raya musim kopi.
 selain hasil petikan buah kopi, para pemanol juga bisa membawa kayu bakar yang akan di gunakan untuk mengopen buah kopi, karena pada saat musim hujan tidak memungkinkan untuk melakukan proses penjemuran ujar nya.

untuk upah nya sendiri maman di mendapat kan Rp 35.000 per karung nya.kadang ia mampu membawa sampai dua karung sekali angkut.Dan dalam satu hari mampu manol sampai empat kali tergantung cuaca.tapi jika curah hujan tinggi seperti tahun ini ia mengaku paling banyak hanya dua kali. sebab medan yang di lalui sangat licin dan berlumpur. tak jarang motor nya harus di hidupkan mesin padahal jalan menurun.
  Ia kadang di bantu oleh adiknya Encun 35th dan Arip 32th,yang juga sebagai pemanol. Kalo musim ujan gini mah sendirian gak berani Mas,takut ada apa-apa di jalan gak ada yang bantuin ujarnya.Mereka bertiga terlihat sangat kompak dan saling bahu membahu dalam menakhlukkan medan yang berat .(pen)




Label: , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda